Langsung ke konten utama

Agar Tak Berefek 'Mengerikan' Begini Saran Psikolog soal Penggunaan Gadget pada Anak

 
Ilustrasi penggunaan gadget pada anak.

PSIKOLOGIPEDIA.COM - Masih banyak pertanyaan para orangtua bagaimana sejatinya penggunaan gadget pada anak.

Mungkin persoalan seperti ini baru dirasakan orangtua zaman sekarang terutama setelah menjamurnya smartphone murah dan seolah sudah menjadi hal wajar banyak digunakan oleh anak-anak.

Di satu sisi ia tak ingin anaknya ketinggalan zaman, gagap teknologi lantaran teman-teman seusianya  mungkin lebih leluasa gunakan gadget tapi di sisi lain muncul pula kekhawatiran kalau ada pengaruh buruk dari penggunaan gadget pada anak.

Sebenarnya boleh enggak anak-anak gunakan gadget?

Seorang Psikolog asal Yogyakarta menjawab persoalan ini.

Wahyu Bintari MPsi Psikolog menjelaskan penggunaan gadget memiliki efek jangka panjang mengerikan bagi anak bila penggunaannya tak diatur dengan baik.

Anak bakal kecanduan, anak tak bisa lepas dari gadget bahkan memiliki kecenderungan memberontak, menangis atau tantrum bila tak diberi gadget.

Padahal seorang tokoh dunia Bill Gates pendiri Microsoft yang karyanya ubah dunia melalui teknologi serta piranti untuk akses internet justru melakukan pembatasan untuk anaknya dalam gunakan gadget.

Bill Gates baru berikan gadget untuk anaknya di umur 12 tahun.

Sementara Steve Jobs sang pendiri Apple dengan produk gadget fenomenal iPhone di pasar dunia bahkan baru izinkan anaknya kenal gadget di usia 14 tahun.

Hal ini sangat berbeda dengan kebanyakan orangtua di  Indonesia seolah membiarkan anaknya akses gadget di usia yang masih dini.

Dosen tamu Program Pascasarjana Universitas Mercu Buana Yogyakarta mengatakan kalau anak-anak boleh gunakan gadget tanpa pembatasan dikhawatirkan nantinya akan kehilangan masa kanak-kanaknya.

Nantinya si anak cenderung mempunyai sikap cuek, pemarah, tak memiliki empati, enggan keluar rumah hingga miliki sikap yang kasar.

Berdasarkan catatan WHO 2011 efek penggunaan gadget untuk kesehatan terbilang menakutkan.

Efek untuk kesehatan yakni kegemukan, sulit tidur, radiasi emisi ke otak, mati rasa dan kram, lambatnya gerak fisik, kelainan mental seperti depresi, autisme, cemas dan potensi kanker pada anak.

Sementara itu dari sisi kognisi anak ditakutkan memiliki kreativitas dan pola pikir yang runtut, terbiasa dengan jalan pintas, serba praktis dan ingin semua tersaji secara cepat.

Lalu pertanyaan soal boleh enggak anak gunakan gadget?

Dosen yang dikenal humoris ini menegaskan kalau anak boleh mengakses gadget tapi perlu dibatasi waktunya serta dilakukan pendampingan oleh orang dewasa.

Berdasarkan telaah dari Akademi Dokter Anak Amerika serta perhimpunan Dokter Anak Kanada, pembatasan penggunaan gadget disesuaikan dengan umurnya.

Anak tak boleh gunakan gadget sama sekali yaknia di umur 0 - 2 tahun.

Anak diperbolehkan gunakan gadget satu jam per hari yakni di umur 3 - 5 tahun.

Dan untuk umur 6 - 18 tahun hanya diperbolehkan gunakan gadget dua jam tiap hari.

Manfaat gadget untuk anak

Gadget juga memiliki sisi manfaat sehingga masih diperbolehkan diakses anak-anak tentu dengan pembatasan.

Menurutnya anak dengan gadget mudah untuk belajar apa saja, kapan saja dengan sumber dari mana saja.

Keunggulan lainnya anak bisa menguasai Bahasa Inggris lebih cepat dengan gadget.

Sisi lain dengan gadget anak dengan mudah menemukan berbagai referensi dari banyak negara dan bisa berkreasi dengan teknologi melalui foto, video, sosmed dan lain-lain.

Psikolog ini menggarisbawahi agar anak diberi akses terbatas untuk gunakan gadget, senantiasa didampingi agar efek manfaatnya bisa dirasakan.

Kalau tak dibatasi justru konten-konten yang seharusnya belum boleh diterima anak-anak seperti pornografi hingga konten kekerasan jadi tontonan anak-anak.

Ia menyarankan agar penggunaan gadget untuk berselancar di dunia maya hanya untuk tujuan belajar. (Psikologipedia.com)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Psikolog Ini Beber Alasan Tak Terduga Kenapa Anak Suka Membantah

PSIKOLOGIPEDIA.COM - Selama ini orang dewasa atau orangtua yang baru saja memiliki anak mungkin agak kaget kenapa anak balita bahkan hingga remaja sering terkesan suka membantah.

Kalau dalam Bahasa Jawa disebut anak 'ngeyelan' tukang membantah, benarkah demikian?

Psikologipedia.com mendapatkan jawaban mengejutkan dari seorang psikolog melalui kupasan lengkap darinya, Senin (26/2/2018).

Mellissa Grace MPsi Psikolog paparkan hal mengejutkan yang mungkin tak semua orangtua tahu melalui akun media sosial miliknya.

Ternyata apa yang selama ini dilakukan oleh anak umur 2 tahun hingga 12 tahun menurut kita merupakan bantahan tapi menurut Mellissa Grace sebenarnya bukan bantahan.

Cara berpikir kita yang menganggap itu bantahan.

Anak-anak di masa itu sedang mengalami masa-masa perkembangan kognisi, bahasa serta kreativitas berpikir.

Menurut Mellissa perkembangan aspek intelektual anak ini seringkali membuat terkesan sedang 'menguji' (melalui sanggahan) atas nasihat-nasihat oran…

Psikolog Ini Mengupas Detail Orang yang Hobi Berbohong, Kenapa Berbohong dan Ciri-cirinya

PSIKOLOGIPEDIA.COM - Seorang psikolog buka-bukaan, ia mengupas rinci orang yang menjadikan kebohongan sebagai kebiasaan.

Kenapa orang tersebut suka berbohong, apa alasan mendasar secara ilmiah sesuai dengan ilmu psikologi hingga bagaimana ciri-cirinya, (Kamis (8/2/2018).

Setiap orang semasa hidup pasti pernah melakukan kebohongan meski hanya sekali.

Seorang yang baik dan jujur terpaksa berbohong ketika berhadapan dengan orang jahat atau orang yang sekiranya akan berbuat jahat kepadanya.

Ada juga orang yang memutuskan untuk berbohong dengan alasan demi kebaikan.

Tentu masing-masing secara pribadi memiliki penilaian subyektif terkait hal ini.

Namun ada juga yang berbohong menjadi suatu kebiasaan bahkan bisa dibilang telah mendarah daging.

Mellissa Grace MPsi Psikolog menguak tuntas terkait hal ini.

Melalui postingan di akun Instagram miliknya @mellissa_grace, ia memaparkan lengkap alasan seseorang berbohong hingga ciri-cirinya.

Perilaku berbohong pada orang dewasa menurut Mellissa setia…

Viral Anak Terekam Nonton Video Porno, Begini Saran Psikolog Penanganannya

PSIKOLOGIPEDIA.COM - Baru-baru ini sedang viral seorang anak perempuan di bawah 10 tahun sedang menonton video porno, Jumat (16/3/2018).

Pada rekaman tersebut si anak duduk di samping orangtuanya di sebuah area publik, anak tersebut beberapa kali menengok ke belakang untuk memastikan tak ada yang mengetahui aksinya.

Sementara orangtua yang di sampingnya tak menyadari apa yang sedang ditonton anak, sibuk dengan aktivitasnya.

Tanpa disadari si anak, ada orang yang merekam aktivitas anak tersebut.

Pada rekaman tampak si anak menonton video yang tak sepantasnya, lelaki dan perempuan sedang beradegan tak senonoh.

Rekaman yang menjadi viral tersebut disesalkan oleh warganet, banyak yang menghujat perekam karena memilih merekam daripada memberitahu orangtua si anak.

Namun ada juga yang membela kalau dengan peristiwa ini jadi tanda awas bagi para orangtua lainnya untuk berhati-hati.

Banyak yang menduga orang dewasa pemilik smartphone yang dilihat si anak, menyimpan video porno dalam gadget it…