Langsung ke konten utama

Psikolog Ini Beber Alasan Tak Terduga Kenapa Anak Suka Membantah

 
Ilustrasi anak sedang bermain.

PSIKOLOGIPEDIA.COM - Selama ini orang dewasa atau orangtua yang baru saja memiliki anak mungkin agak kaget kenapa anak balita bahkan hingga remaja sering terkesan suka membantah.

Kalau dalam Bahasa Jawa disebut anak 'ngeyelan' tukang membantah, benarkah demikian?

Psikologipedia.com mendapatkan jawaban mengejutkan dari seorang psikolog melalui kupasan lengkap darinya, Senin (26/2/2018).

Mellissa Grace MPsi Psikolog paparkan hal mengejutkan yang mungkin tak semua orangtua tahu melalui akun media sosial miliknya.

Ternyata apa yang selama ini dilakukan oleh anak umur 2 tahun hingga 12 tahun menurut kita merupakan bantahan tapi menurut Mellissa Grace sebenarnya bukan bantahan.

Cara berpikir kita yang menganggap itu bantahan.

Anak-anak di masa itu sedang mengalami masa-masa perkembangan kognisi, bahasa serta kreativitas berpikir.

Menurut Mellissa perkembangan aspek intelektual anak ini seringkali membuat terkesan sedang 'menguji' (melalui sanggahan) atas nasihat-nasihat orangtua yang diberikan padanya.

Pada kenyataannya anak tak memiliki maksud buruk atau kurang ajar selain memenuhi rasa keingintahuannya tentang dunia dari sudut pandang si anak.

Sementara pada usia remaja yakni 10-12 tahun (fase remaja awal) hingga umur 18-20 tahun (fase remaja akhir) biasanya ada kebutuhan akan eksistensi diri (ini aturanku).

Kebutuhan inilah yang membuat anak-anak remaja lebih cenderung ingin membuat aturannya sendiri dibandingkan ikuti aturan dari figur otoritas seperti guru dan orangtua.

Selain itu anak juga meniru pola komunikasi yang ia lihat sehari-hari.

Pola komunikasi ini ia lihat dari interaksi antara orangtua, orangtua-anak, teman maupun tontonan sehari-hari.

Misalnya ketika si anak terbiasa mendapatkan 'perintah' dari figur otoritas "Pokoknya kamu harus..." maka anak akan meniru bentuk komunikasi tersebut, "Pokoknya ini yang saya mau...".

Hal lain yang sering luput dari perhatian orangtua yakni si anak butuh perhatian.

Mungkin si anak membutuhkan perhatian lebih karena orangtua terlalu sibuk bekerja atau si anak merasa kurang mendapat perhatian dibandingkan dengan saudara kandungnya yang lain.

Nah alasan inilah membuat si anak merasa perlu tampil beda dengan berbagai cara.

Faktor lainnya yakni kebutuhan anak agar didengarkan pendapat, pikiran atau perasaannya.

Lalu bagaimana menghadapi anak yang suka membantah?

Mellissa menyarankan agar orangtua tidak bersikap menghakimi tapi memahami kebutuhan anak sesuai usia dan tahapan perkembangannya.

Selanjutnya yang perlu dilakukan yakni hindari kesal atau marah atau bahkan menganggap anak tidak sopan.

Saat anak berani ungkapkan argumentasinya, ia sebenarnya telah berada di jalur yang tepat.

Artinya anak tersebut telah berani ungkapkan pikiran maupun perasaannya, jadi justru jangan dimarahi.

Jika anak terlalu sering dimarahi saat mengeluarkan pendapatnya maka ia akan terbiasa untuk seolah diam atau menuruti nasihat orangtua tapi bisa dipastikan akan melakukan pemberontakan dalam bentuk lainnya, di belakang orangtua.

Hal ini yang lebih mengkhawatirkan.

Jadi sebaiknya anak memiliki kebutuhan untuk didengarkan, dihargai dan dipahami.

Langkah selanjutnya yakni orangtua disarankan untuk menjadi contoh (role model) bagi anak, bahkan di saat situasinya sangan menantang kesabaran sekalipun.

Bagaimana cara orangtua menyikapi situasi-situasi yang tak menyenangkan, akan menjadi contoh untuk anak belajar menyikapi hal yang serupa.

Bila anak terkesan membantah orangtua dengan cara kurang sopan, maka sebaiknya orangtua mengajak anak dengan cara lembut untuk berdiskusi.

Ha ini akan menjadikan contoh bagi anak untuk tetap bersikap rasional dalam situasi irasional apapun.

Semoga bermanfaat. (Psikologipedia.com)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Psikolog Ini Mengupas Detail Orang yang Hobi Berbohong, Kenapa Berbohong dan Ciri-cirinya

PSIKOLOGIPEDIA.COM - Seorang psikolog buka-bukaan, ia mengupas rinci orang yang menjadikan kebohongan sebagai kebiasaan.

Kenapa orang tersebut suka berbohong, apa alasan mendasar secara ilmiah sesuai dengan ilmu psikologi hingga bagaimana ciri-cirinya, (Kamis (8/2/2018).

Setiap orang semasa hidup pasti pernah melakukan kebohongan meski hanya sekali.

Seorang yang baik dan jujur terpaksa berbohong ketika berhadapan dengan orang jahat atau orang yang sekiranya akan berbuat jahat kepadanya.

Ada juga orang yang memutuskan untuk berbohong dengan alasan demi kebaikan.

Tentu masing-masing secara pribadi memiliki penilaian subyektif terkait hal ini.

Namun ada juga yang berbohong menjadi suatu kebiasaan bahkan bisa dibilang telah mendarah daging.

Mellissa Grace MPsi Psikolog menguak tuntas terkait hal ini.

Melalui postingan di akun Instagram miliknya @mellissa_grace, ia memaparkan lengkap alasan seseorang berbohong hingga ciri-cirinya.

Perilaku berbohong pada orang dewasa menurut Mellissa setia…

Viral Anak Terekam Nonton Video Porno, Begini Saran Psikolog Penanganannya

PSIKOLOGIPEDIA.COM - Baru-baru ini sedang viral seorang anak perempuan di bawah 10 tahun sedang menonton video porno, Jumat (16/3/2018).

Pada rekaman tersebut si anak duduk di samping orangtuanya di sebuah area publik, anak tersebut beberapa kali menengok ke belakang untuk memastikan tak ada yang mengetahui aksinya.

Sementara orangtua yang di sampingnya tak menyadari apa yang sedang ditonton anak, sibuk dengan aktivitasnya.

Tanpa disadari si anak, ada orang yang merekam aktivitas anak tersebut.

Pada rekaman tampak si anak menonton video yang tak sepantasnya, lelaki dan perempuan sedang beradegan tak senonoh.

Rekaman yang menjadi viral tersebut disesalkan oleh warganet, banyak yang menghujat perekam karena memilih merekam daripada memberitahu orangtua si anak.

Namun ada juga yang membela kalau dengan peristiwa ini jadi tanda awas bagi para orangtua lainnya untuk berhati-hati.

Banyak yang menduga orang dewasa pemilik smartphone yang dilihat si anak, menyimpan video porno dalam gadget it…