Langsung ke konten utama

Psikolog Ini Mengupas Detail Orang yang Hobi Berbohong, Kenapa Berbohong dan Ciri-cirinya

 
Ilustrasi berbohong.

PSIKOLOGIPEDIA.COM - Seorang psikolog buka-bukaan, ia mengupas rinci orang yang menjadikan kebohongan sebagai kebiasaan.

Kenapa orang tersebut suka berbohong, apa alasan mendasar secara ilmiah sesuai dengan ilmu psikologi hingga bagaimana ciri-cirinya, (Kamis (8/2/2018).

Setiap orang semasa hidup pasti pernah melakukan kebohongan meski hanya sekali.

Seorang yang baik dan jujur terpaksa berbohong ketika berhadapan dengan orang jahat atau orang yang sekiranya akan berbuat jahat kepadanya.

Ada juga orang yang memutuskan untuk berbohong dengan alasan demi kebaikan.

Tentu masing-masing secara pribadi memiliki penilaian subyektif terkait hal ini.

Namun ada juga yang berbohong menjadi suatu kebiasaan bahkan bisa dibilang telah mendarah daging.

Mellissa Grace MPsi Psikolog menguak tuntas terkait hal ini.

Melalui postingan di akun Instagram miliknya @mellissa_grace, ia memaparkan lengkap alasan seseorang berbohong hingga ciri-cirinya.

Perilaku berbohong pada orang dewasa menurut Mellissa setiap orang pernah melakukannya.

Ia menyebut 60 persen individu minimal satu kali berbohong dalam 10 kali percakapan dan relatif ada tiga kali kebohongan dalam 10 menit percakapan.

Perilaku berbohong yakni tidak mengatakan yang sebenarnya mulai dari hal sederhana hingga kebohongan besar.

Mellissa mencontohkan misalnya permintaan maaf karena terlambat gara-gara macet padahal sesungguhnya yang terjadi adalah lantaran terlambat bangun.

Ada juga yang bilang dirinya sedang dalam kondisi baik-baik saja padahal sedang tidak baik.

Contoh lain alasan gak ada sinyal padahal memang tak ingin menelepon.

Ciri-ciri orang berbohong menurut Psikolog cantik ini biasanya terlihat cemas, tegang atau stres, merasa bersalah dan ingin segera meredakan ketegangan.

Selain itu juga terasa ada perubahan suara, tidak sanggup mempertahankan kontak mata (pada kondisi normal orang tersebut sanggup mempertahankan kontak mata).

Meski demikian ciri-ciri ini bisa saja tidak muncul untuk orang-orang yang tidak memiliki rasa bersalah atau minimnya rasa empati.

Menurut mantan artis cilik ini, kebohongan sesekali pernah dilakukan hampir setiap orang, tapi ada beberapa orang melakukan kebohngan secara terus menerus atau disebut sebagai compulsive lying.

Orang dengan compulsive lying hampir setiap perkataannya dan aspek hidupnya dipenuhi dengan kebohongan.

Mellissa kemudian merinci tentang compulsive lying.

Orang dengan compulsive lying biasanya berbohong digunakan sebagai bentuk pelarian dari tanggung jawab.

Orang-orang seperti ini menilai perilaku berbohong dianggap lebih mudah atau lebih sedikit mendatangkan konsekuensi negatif dibandingkan perilaku jujur.

Lalu bohong digunakan untuk meningkatkan image, citra atau konsep diri seseorang.

Biasanya pelaku compulsive lying justru memiliki konsep diri yang buruk, sehingga mereka butuh terus menerus berbohong untuk membuat citra diri yang terlihat lebih positif di lingkungan sosial.

Misalnya berbohong kalau ia seorang yang populer dan memiliki kenalan-kenalan orang-orang penting meski sesungguhnya orang-orang yang disebutkan namanya tidak merasa mengenal dekat dirinya.

Lalu orang semacam ini berbohong merupakan mekanisme yang otomatis terjadi karena telah merupakan suatu kebiasaan guna meningkatkan perasaan berharga diri sendiri padahal sesungguhnya palsu.

Seringkali pelaku sadar bahwa ia telah berbohong tapi seolah tak sanggup menghentikan karena telah menjadi kebiasaan.

Selain itu orang dengan compulsive lying melakukan kebohongan untuk memperoleh pengakuan sosial atau membentuk impresi dari orang lain.

Subjek mengharapkan mendapatkan pengakuan sosial yang lebih baik dibandingkan status sosial diri subjek yang sebenarnya.

Pelaku buth diakui sebagai orang hebat atau pahlawan padahal ia korban dari sebuah situasi.

Kebiasaan berbohong sebagai bentuk akibat dari pengalaman masa kecil yang traumatis.

Misalnya ditakut-takuti oleh teman atau orangtua atau dipukul serta dimarahi saat subje mengaktakan kejujuran.

Brbohong digunakan subjek sebagai pengesahan atas keyakinannya.

Contoh 'Saya kuat menghadapi ini', padahal sebenarnya tidak dan ini termasuk denial yakni penyangkalan terhadap diri sendiri.

Kemudian berbohong agar diterima di kalangan dengan status sosial tertentu agar dianggap penting.

Lalu oarang semacam ini bisa sembuh nggak ya?

Menurut Mesllissa perilaku compulsive lying yang dilakukan pada usia dewasa biasanya sangat kecil kemungkinannya untuk bisa sembuh karena sudah menjadi bagian dari karater kepribadian.

Jika individu tersebut memiliki niat sembuh (biasanya hampir tak pernah terjadi) bsa dibantu melalui proses psikoterapi yang melibatkan orang-orang terdekat dengan proses yang lama.

Bagaimana menghadapi orang semacam ini, orang dengan compulsive lying?

Jawabanya konsistensi perilaku yakni berikan reward (hadiah) pada perilaku jujur dan memberikan konsekuensi negatif (termasuk pengabaian/ignorance) pada perilaku berbohong.

Postingan Mellissa bisa disimak di sini.


Semoga bermanfaat. (Psikologipedia.com)




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Psikolog Ini Beber Alasan Tak Terduga Kenapa Anak Suka Membantah

PSIKOLOGIPEDIA.COM - Selama ini orang dewasa atau orangtua yang baru saja memiliki anak mungkin agak kaget kenapa anak balita bahkan hingga remaja sering terkesan suka membantah.

Kalau dalam Bahasa Jawa disebut anak 'ngeyelan' tukang membantah, benarkah demikian?

Psikologipedia.com mendapatkan jawaban mengejutkan dari seorang psikolog melalui kupasan lengkap darinya, Senin (26/2/2018).

Mellissa Grace MPsi Psikolog paparkan hal mengejutkan yang mungkin tak semua orangtua tahu melalui akun media sosial miliknya.

Ternyata apa yang selama ini dilakukan oleh anak umur 2 tahun hingga 12 tahun menurut kita merupakan bantahan tapi menurut Mellissa Grace sebenarnya bukan bantahan.

Cara berpikir kita yang menganggap itu bantahan.

Anak-anak di masa itu sedang mengalami masa-masa perkembangan kognisi, bahasa serta kreativitas berpikir.

Menurut Mellissa perkembangan aspek intelektual anak ini seringkali membuat terkesan sedang 'menguji' (melalui sanggahan) atas nasihat-nasihat oran…

Sering Dilakukan Orangtua! Hal Sepele Ini Ternyata Hambat Rasa Percaya Diri Anak

PSIKOLOGIPEDIA.COM - Siapa orangtua yang tak menginginkan anak memiliki rasa percaya diri tinggi.

Saat kumpul keluarga atau reuni teman dekat tentu berharap anak kita tidak malu bahkan dengan penuh percaya diri berani untuk menyapa atau beriinisiatif kenalan dengan orang yang baru ia temui.

Namun yang terjadi sebaliknya, tak sedikit anak-anak cenderung pemalu, nempel terus dengan mama atau papanya enggan lepas, takut dengan orang baru.

Padahal anak tersebut adalah anak usia sekolah yang semestinya telah memiliki bekal rasa percaya diri.

Rasa percaya diri bisa dilatih dan ternyata beberapa hal sepele yang dilakukan orangtua ternyata tanpa sadar justru menghambat rasa percaya diri pada anak.

Seorang Psikolog andal mengupas hal ini.

Mellissa Grace MPsi Psikolog memaparkan kupasan terkait hal ini setelah ia ditanya bagaimana menumbuhkan rasa percaya diri pada anak usia sekolah?

Mellissa kemudian menunjukkan satu hal yang menurut Psikologipedia.com sering dilakukan para orangtua pada anakn…