Langsung ke konten utama

Teman atau Saudara Pernah Coba Bunuh Diri? Simak 'Solusi' dari Ahli Kedokteran Jiwa dan Psikologi Klinis UGM Ini

Ilustrasi depresi.

PSIKOLOGIPEDIA.COM - Pasti pernah membaca kasus bunuh diri di surat kabar maupun portal berita, atau bahkan pernah mengetahui sendiri karena peristiwa terjadi di sekitar rumah?

Tiap orang pernah mengalami tekanan batin tapi siapa sangka jika langkah nekat yakni dengan mengakhiri hidup justru lebih dipilih untuk 'lari' dari kondisi tersebut.

Tak ada satupun yang bisa menyangka atau menduga seseorang bunuh diri hingga peristiwa tersebut benar-benar sudah terjadi.

Namun ternyata kenekatan tersebut tak serta merta langsung terjadi atau orang yang bunuh diri langsung melakukannya seketika.

Ada serangkaian proses yang bisa diamati dan tentu orang-orang di sekitarnya bisa melakukan pencegahannya, Selasa (6/2/2018).


Peristiwa bunuh diri ini bisa dicegah dan hal ini terungkap dalam sebuah acara talkshow dengan tajuk Fenomena Bunuh Diri: Aspek Psikiatri dan Psikologi yang diselenggarakan di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 22 Agustus 2017 tahun lalu.

Acara ini digelar di Ruang Theater Gedung Perpustakaan lantai dua Fakultas Kedokteran UGM.

Seperti dikutip dari portal resmi UGM, dua narasumber yakni Ahli Kedokteran Jiwa dari UGM, Dr dr Carla Raymondalexas Marchira SpKJ (K) dan Ahli psikologi Klinis UGM,

Dra Sumarni MKes memaparkan beberapa fakta soal bunuh diri hingga bagaimana orang di sekitar melakukan pencegahan bila terjadi indikasi demikian.

Pada talkshow tersebut muncul data yang mengejutkan terkait bunuh diri.

Organisasi kesehatan dunia WHO merilis pada tahun 2012 tercatat ada 800 ribu orang bunuh diri di berbagai belahan dunia.

Ternyata angka bunuh diri tertinggi terjadi di Korea Selatan.

Dari 100 ribu penduduk ada angka 36,8 orang yang melakukan bunuh diri, hal ini menjadikan Korsel peringkat satu sebagai negara dengan angka bunuh diri yang tinggi.

Sementara itu Indonesia berada di urutan 114 dunia dengan angka 3,7 per 100 ribu penduduk.

Ahli Kedokteran Jiwa UGM, Dr dr Carla Raymondalexas Marchira SpKJ (K) menyampaikan, pencetus 'kenekatan' terjadinya bunuh diri dipengaruhi berbagai hal.

Aspek budaya kekeluargaan misalnya menjadi hal penting.

Bagaimana lingkungan keluarga yang berikan pengaruh penting untuk perkembangan proses hidup seseorang.

Budaya di keluarga ini berikan pengaruh penting.

Selanjutnya aspek lain seperti distorsi budaya, transisi budaya hingga sosial ekonomi.

Hal lain yang tak kalah mengejutkan adalah faktor genetika.

Keluarga yang memiliki gen pembawa bunuh diri ternyata beri pengaruh besar hingga membawa persentase tinggi untuk keturunannya kemungkinan untuk melakukan bunuh diri.

Selain itu aspek psikologi-psikiatri juga berpengaruh besar seperti depresi yakni kondisi sedih 'akut' saking terpuruknya hingga menganggu aktivitas sosial sehari-hari.

Masih pada aspek ini yakni pengidap skizofrenia.

Skizofrenia merupakan sebuah gangguan mental yang kronis.

Penderita akan mengalami delusi, halusinasi, pikiran kacau hingga perubahan perilaku.

Kondisi ini biasanya berlangsung lama, disebut gangguan mental lantaran penderita sulit membedakan antara kenyataan dengan pikiran sendiri.

Ia menegaskan kalau orang di sekitar bisa mempunyai andil untuk mencegah bunuh diri.

Caranya dengan mengenali tanda-tandanya, dari faktor risiko serta orang yang kemungkinan besar bunuh diri.

Faktor risiko ini menurut Carla meliputi banyak hal seperti menganggur, bercerai, bulliying, banyak konflik, mengalami pelecehan seksual, terisolasi secara sosial, memiliki riwayat mutilasi hingga memiliki riwayat orangtua depresi.

Sedangkan tanda-tanda seseorang kemungkinan akan melakukan bunuh diri antara lain sering menangis, gelisah, sedih, bingung, mudah tersinggung serta fanatik pada agama.

Orang-orang di sekitar bisa melakukan pencegahan untuk meminimalisir peristiwa bunuh diri.

Pencegahan primer dilakukan sebelum timbul niat bunuh diri dengan memperhatikan faktor risiko dan pencegahan sekunder dengan melakukan deteksi dini sekaligus terapi yang sesuai untuk orang yang pernah melakukan percobaan bunuh diri.

Beberapa hal bisa dilakukan di mulai dari menyingkirkan barang-barang yang bisa digunakan untuk bunuh diri, bila perlu melakukan pengawasan total.

Sementara itu Ahli Psikologi Klinis UGM Dra Sumarni MKes menilai pencegahan bunuh diri bisa dilakukan dengan memperkuat imunitas kepribadian.

Satu faktor terjadinya upaya percobaan bunuh diri berasal dari kenekatan - keberanian individu untuk bunuh diri.

Menurutnya pencegahan bisa dilakukan sejak dini yakni pentingnya membangun kelekatan dalam keluarga khususnya ibu untuk anak usia dini.

Sumarmi menilai bila terjadi ketenangan di awal 'terciptanya' kehidupan dalam diri seseorang maka orang tersebut tidak rentan mengalami gangguan jiwa.

Ia menekankan pentingnya optimisme, mental yang sehat serta hidup dengan baik.

"Kalau mental tak sehat dan memiliki kecenderungan mudah sedih, selalu was-was akan mudah melakukan bunuh diri," jelasnya dalam talkshow tersebut. 

Jadi peristiwa bunuh diri sebenarnya bisa dicegah, syaratnya yakni peduli.

Bila kita peduli bahkan empati dengan orang-orang di sekitar kita, lalu kita bisa mengenali faktor risiko hingga ciri-ciri orang yang akan melakukan bunuh diri maka kemungkinan besar bisa mencegah aksi bunuh diri seseorang.

Semoga bermanfaat dan senantiasa peduli untuk menjaga orang-orang di sekitar kita apalagi yang kita sayangi.(Psikologipedia.com)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Psikolog Ini Beber Alasan Tak Terduga Kenapa Anak Suka Membantah

PSIKOLOGIPEDIA.COM - Selama ini orang dewasa atau orangtua yang baru saja memiliki anak mungkin agak kaget kenapa anak balita bahkan hingga remaja sering terkesan suka membantah.

Kalau dalam Bahasa Jawa disebut anak 'ngeyelan' tukang membantah, benarkah demikian?

Psikologipedia.com mendapatkan jawaban mengejutkan dari seorang psikolog melalui kupasan lengkap darinya, Senin (26/2/2018).

Mellissa Grace MPsi Psikolog paparkan hal mengejutkan yang mungkin tak semua orangtua tahu melalui akun media sosial miliknya.

Ternyata apa yang selama ini dilakukan oleh anak umur 2 tahun hingga 12 tahun menurut kita merupakan bantahan tapi menurut Mellissa Grace sebenarnya bukan bantahan.

Cara berpikir kita yang menganggap itu bantahan.

Anak-anak di masa itu sedang mengalami masa-masa perkembangan kognisi, bahasa serta kreativitas berpikir.

Menurut Mellissa perkembangan aspek intelektual anak ini seringkali membuat terkesan sedang 'menguji' (melalui sanggahan) atas nasihat-nasihat oran…

Psikolog Ini Mengupas Detail Orang yang Hobi Berbohong, Kenapa Berbohong dan Ciri-cirinya

PSIKOLOGIPEDIA.COM - Seorang psikolog buka-bukaan, ia mengupas rinci orang yang menjadikan kebohongan sebagai kebiasaan.

Kenapa orang tersebut suka berbohong, apa alasan mendasar secara ilmiah sesuai dengan ilmu psikologi hingga bagaimana ciri-cirinya, (Kamis (8/2/2018).

Setiap orang semasa hidup pasti pernah melakukan kebohongan meski hanya sekali.

Seorang yang baik dan jujur terpaksa berbohong ketika berhadapan dengan orang jahat atau orang yang sekiranya akan berbuat jahat kepadanya.

Ada juga orang yang memutuskan untuk berbohong dengan alasan demi kebaikan.

Tentu masing-masing secara pribadi memiliki penilaian subyektif terkait hal ini.

Namun ada juga yang berbohong menjadi suatu kebiasaan bahkan bisa dibilang telah mendarah daging.

Mellissa Grace MPsi Psikolog menguak tuntas terkait hal ini.

Melalui postingan di akun Instagram miliknya @mellissa_grace, ia memaparkan lengkap alasan seseorang berbohong hingga ciri-cirinya.

Perilaku berbohong pada orang dewasa menurut Mellissa setia…

Sering Dilakukan Orangtua! Hal Sepele Ini Ternyata Hambat Rasa Percaya Diri Anak

PSIKOLOGIPEDIA.COM - Siapa orangtua yang tak menginginkan anak memiliki rasa percaya diri tinggi.

Saat kumpul keluarga atau reuni teman dekat tentu berharap anak kita tidak malu bahkan dengan penuh percaya diri berani untuk menyapa atau beriinisiatif kenalan dengan orang yang baru ia temui.

Namun yang terjadi sebaliknya, tak sedikit anak-anak cenderung pemalu, nempel terus dengan mama atau papanya enggan lepas, takut dengan orang baru.

Padahal anak tersebut adalah anak usia sekolah yang semestinya telah memiliki bekal rasa percaya diri.

Rasa percaya diri bisa dilatih dan ternyata beberapa hal sepele yang dilakukan orangtua ternyata tanpa sadar justru menghambat rasa percaya diri pada anak.

Seorang Psikolog andal mengupas hal ini.

Mellissa Grace MPsi Psikolog memaparkan kupasan terkait hal ini setelah ia ditanya bagaimana menumbuhkan rasa percaya diri pada anak usia sekolah?

Mellissa kemudian menunjukkan satu hal yang menurut Psikologipedia.com sering dilakukan para orangtua pada anakn…